Kolaka Rawan Bencana Alam, Ada di Sembilan Kecamatan

Warga Kabupaten Kolaka, sebaiknya jangan hanya fokus untuk memikirkan Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati periode 2019-2024 mendatang yang akan berlangsung pada 27 Juni ini. Tetapi sebaiknya, memikirkan juga nasib Kabupaten Kolaka hingga beberapa tahun ke depan demi keberlangsungan generasi. Hal itu bukannya tak memiliki alasan. Melainkan, ternyata Kabupaten Kolaka saat ini masuk dalam urutan 50 besar tingkat kerawanan terjadinya bencana alam dari semua kabupaten dan Kota seluruh Indonesia.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiap Siagaan BPMD Kabupatan Kolaka Bustam, menuturkan, dari 12 Kecamatan yang ada di Kolaka, terdapat sembilan Kecamatan yang masuk dalam kategori rawan bencana alam atau zona merah. Yakni, Kecamatan Kolaka, Samaturu, Iwoimenda, dan Wolo. Lalu Kecamatan Pomalaa,
Tanggetada, Watubangga, Polinggona dan Toari. Lainnya, Kecamatan Latambaga, Wundulako dan Baula tidak. “Semua itu masuk dalam zona merah,” ungkapnya kemarin.

Ia lalu menuturkan tiap kecamatannya yang masuk dalam kerawanan bencana alam. Untuk Kecamatan Kolaka dan Samaturu selalu terjadi banjir bandang dan puting beliung. Hal ini menjadi wajar. Sebab, setiap musim hujan datang, Kolaka selalu menjadi langganan banjir, khususnya yang ada dalam Kota, yakni Jalan Konggoasa karena minimnya drainase. Begitu juga dengan Samaturu. Sementara puting beliung, mungkin karena kedua wilayah itu berada dipesisir pantai. “Abrasi pantai juga ada di Samaturu. Ini terjadi, karena minimnya tanggul yang ada diwilayah itu,” tuturnya.

Lain halnya untuk di Kecamatan Iwoimenda dan Wolo. di dua Kecamatan ini katanya, yang sering terjadi bencana alam adalah akibat adanya banjir bandang. Seperti
halnya yang terjadi belum lama ini, di Kecamatan Wolo terkena banjir bandang, sehingga beberapa rumah terendam lumpur setinggi tumit kaki. Bukan hanya itu, jembatan penghubung pada wilayah itu juga putus akibat derasnya aliran sungai yang berasal dari hulu. Begitu juga persawahan pada wilayah itu, terdapat ratusan hektar terendam air. Padahal, beberapa diantaranya sementara dalam proses tabur benih. “di Wilayah ini, banjir bandang selalu menjadi langganan tiap tahunnya,” tambahnya.

Sama halnya katanya dengan Kecamatan Pomalaa, Tanggeta, Watubangga dan Polinggona dan Toari. Kelima Kecamatan ini juga masuk dalam zona merah terjadi
bencana banjir bandang. Hal ini di anggap wajar. Mengingat beberapa Kecamatan itu, merupakan pusat keberadaan pertambangan yang ada di bumi mekongga ini. Di
Kecamatan Pomalaa misalnya. Terdapat beberapa perusahaan yang bergerak disektor pertambangan. Sementara untuk Kecamatan Watubangga dan lainnya, di dominasi perusahaan yang bergerak di sektor kelapa sawit.

“Makanya, ini juga masuk dalam kategori rawan bencana terjadinya bencana banjir bandang. Dan dari
tingkat Kabupaten, Kolaka menjadi urutan ke 54 rawan bencana dari 500 Kabupaten dan Kota se Indonesia. Lebih tinggi dari Kota Bau-bau Sulawesi Tenggara,” tambahnya.

Ia lalu menambahkan, meskipun bencana alam sudah merupakan kehendak sang pencipta. Namun pihaknya selalu berupaya untuk melakukan pencegahan dan pemahaman kepala masyarakat untuk tetap menjaga lingkungannya. “Sosialisasi terus kita lakukan kepada masyarakat. Bahkan kepada masyarakat yang menempati wilayah masuk kategori bencana, kita berikan pemahaman untuk segera meninggalkan wilayahnya jika terdapat tanda-tanda bahaya,” tutupnya.(ing/hen)

Sumber : https://kolakaposnews.com

Baca Lainnya

PILIHAN REDAKSI