RDP dengan Komisi III, Dr. Marwan Menyatakan Permohonan Maafnya

Komisi III DPRD Kolaka akhirnya menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi III DPRD Kolaka pada Kamis (29/3) terkait permasalahan dugaan penelantaran pasien Rumah sakit Benyamin Guluh (RSBG) Kolaka oleh Dokter Kandungan (Dokter Marwan) yang diadukan keluarga pasien. Keluarga Korban.
Pimpinan RSBG, Intansi Dinas Kesehatan, dan Dokter Kandungan (Dokter Marwan), Asisten I, dan instansi terkait lainnya dan bahkan mahasiswa dihadirkan dalam RDP yang berlangsung di aula rapat Rapat DPRD Kolaka.
Dalam RDP yang Dipimpin oleh Ketua Komisi III DPRD Kolaka, Syaifullah Khalik tersebut, meminta keluarga Korban menyampaikan kronologi terkait permasalahan dengan Dokter kandungan tersebut.
Salah satu keluarga korban, Baharuddin bahkan sempat meneteskan air mata saat menceritakan kejadian yang menimpa istri dan anaknya yang meninggal dunia yang diduga akibat kelalaian sang dokter.
“Sakit perasaan saya pak, saya punya anak 4 harus kehilangan ibunya, kenapa saat istri saya sedang akan melahirkan bapak keluar kota, saat pembukaan dua dan menyerahkan kepada bidan, saat seperti ini harusnya bapak mementingkan pasien, tetapi bapak tetap keluar kota juga berarti bapak ini lebih mementingkan uang,” papar Baharuddin sembari meneteskan air mata mengenang istrinya dan anaknya yang meninggal dunia pada Januari lalu karena dugaan tidak ditangani oleh dokter kandungan.
Hal yang sama juga diungkapakan oleh Supriadi, yang merasa geram dengan tindakan dokter kandungan yang juga diduga menelantarkan istrinya selama 18 jam hingga mengalami pendarahan hebat tanpa tindakan dari dokter. “Saya ini juga kesehatan, malu saya sebenarnya mengungkapkan ini, harusnya dokter bertanggung jawab terhadap persoalan ini,” tutur Supriadi.
Terkait hal itu, Dokter spesialis kandungan RSBG Kolaka. Dr Marwan, menyampaikan permohonan maafnya atas kejadian tersebut dan menyatakan bahwa dirinya sudah berusaha melakukan tindakan medis.”Saya memohon maaf atas kejadian ini dan prihatin atas yang menimpa pak Baharuddin, saya juga sok, betul memang saya tidak bisa mendampingi korban karena saya harus berangkat hari itu, tapi kesimpulannya waktu itu saat diperiksa kondisinya memungkinkan melahirkan normal secara medis saat saya periksa dan pasein setuju melahirkan di klinik, dan terkait kejadian istri Pak Supriadi itu juga sudah ditangani secara, hanya saja memang waktu saya lagi istrahat, saya juga manusia biasa butuh istirahat” paparnya.
Terkait klarifikasi tersebut akhirnya Komisi III DPRD merekomendasikan agar pelayanan di rumah sakit lebih ditingkatkan, dan kejadian menelantarkan pasien tidak diulang lagi, dan penambahan dokter spesialis kandungan sudah dikomunikasiskan dengan pihak pemerintah untuk segera menambahnya dalam waktu dekat ini. Komisi III “jadi kesimpulannya kita tidak ingin hal ini terjadi lagi, rumah sakit juga harus meningkatkan pelayanan, jangan ada lagi penelantaran pasien, untuk dokter kandungan itu sudah diusahakan dalam waktu dekat ini,” papar Syaifullah Khalik, Ketua Komisi III DPRD Kolaka.
Dia juga mengatakan bahwa terkait tuntutan untuk penyelesaian secara hukum oleh keluarga pasien yang merasa dirugikan itu diserahkan sepenuhnya kepada keluraga pasien. (SK) (cr4/c/hen)

Sumber : https://kolakaposnews.com

Baca Lainnya

PILIHAN REDAKSI